memarahi anak

5 Dampak Buruk Sering Memarahi Anak

GIDO TAEKWONDO – Banyak orang tua mengira bahwa membentak atau memarahi anak adalah cara yang tepat untuk mendisiplinkan akan.

Namun, alih-alih menjadi patuh, amarah tersebut justru meninggalkan luka batin pada anak, yang menyebabkan mereka mengalami trauma emosional yang mempengaruhi pertumbuhan mereka.

Oleh sebab itu, terdapat beberapa dampak buruk jika orang tua sering memarahi anak yang perlu diwaspadai demi masa depan mereka.

Melansir dari klikdokter.com, lima dampak buruk sering memarahi anak antara lain:

Tertekan dan Tidak Percaya Diri

    Ketika anak terus-menerus dihadapkan dengan amarah orang tua, mereka akan tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan dan tekanan batin yang berat.

    Anak yang sering dimarahi akan bertindak berdasarkan rasa takut, bukan karena pemahaman akan hal yang benar atau salah.

    Selain itu, akibat sering disalahkan, anak akan meragukan kemampuan dan penilaian diri sendiri. Hal ini menyebabkan anak akan tumbuh tanpa prinsip hidup, dan mudah untuk dimanipulasi orang lain. 

    Menjadi Pemarah

    Anak yang sering dimarahi oleh orang tua akan cenderung meniru perilaku tersebut, dan tumbuh menjadi pribadi yang pemarah juga. 

    Melansir dari alodokter.com, anak yang sering dimarahi secara konsisten beresiko memicu gangguan mental dan tumbuh dengan sifat agresif.

    Hal tersebut dikarenakan anak terbiasa menerima bentakan atau makian, sehingga mereka akan menganggap kekerasan verbal tersebut sebagai cara yang wajar untuk menyelesaikan konflik.

    BACA JUGA: 7 Cara untuk Melatih Disiplin Anak

    Suka Berbohong

    Rasa takut dimarahi oleh orang tua akan membuat anak memilih untuk berbohong, daripada berterus terang.

    Mengutip dari ciputra.ac.id, filsuf Bertrand Russell berkata, ”Anak-anak yang tidak jujur hampir selalu disebabkan oleh akibat rasa takutnya”.

    Hal ini berarti, mereka menggunakan ketidakjujuran sebagai cara untuk menyelamatkan diri dari amarah orang tua.

    Kebiasaan tersebut mengakibatkan anak tidak belajar dari kesalahan yang mereka perbuat, justru semakin mahir untuk menyembunyikan fakta.

    Hubungan Menjadi Renggang

    Sering memarahi anak dapat meruntuhkan rasa aman (secure attachment) di dalam rumah, sehingga hubungan emosional antara orang tua dan anak menjadi renggang.

    Ketika anak sering dihadapkan dengan amarah orang tua, mereka tidak lagi melihat orang tua sebagai sosok pelindung, melainkan ancaman yang harus dihindari.

    Akibatnya, anak akan mulai menjauh dan tidak mau terbuka dengan orang tua.

    Memunculkan Dendam

    Rasa dendam yang terpendam akibat sering dimarahi, dapat memicu anak untuk meluapkan amarah serupa kepada orang lain.

    Melansir dari herminahospitals.com, kekerasan verbal atau fisik akan terekam dalam memori anak, sehingga dapat memicu kekecewaan mendalam, yang membentuk rasa sakit hati serta dendam.

    Selain itu, ketika rasa dendam tidak disembuhkan, anak akan melampiaskan luka batin mereka kepada pihak yang dianggap lebih lemah.

    Hal ini bisa saja terjadi kepada adik, teman hingga keturunannya di masa depan, sebagai bentuk dari pelarian atas rasa ketidakberdayaan mereka di masa lalu.

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *