disiplin anak

7 Cara untuk Melatih Disiplin Anak

GIDO TAEKWONDO – Melatih disiplin anak sering kali menjadi salah satu hal yang dianggap sulit dalam proses parenting.

Pada dasarnya, melatih disiplin adalah tentang bagaimana menanamkan kebiasaan yang baik, yang membekas hingga dewasa.

Mengajarkan disiplin kepada anak perlu dimulai sejak dini, karena pada dasarnya perkembangan anak pada usia enam sampai sembilan tahun adalah usia terbaik bagi anak untuk mengenal aturan.

Oleh sebab itu, terdapat beberapa cara bagi orang tua untuk melatih kedisiplinan anak. Melansir dari hellosehat.com, di bawah ini adalah tujuh cara untuk melatih disiplin anak antara lain:

Menyusun Jadwal Harian

Ajaklah anak untuk menyusun jadwal harian bersama-sama, agar ia pintar mengatur waktu dan lebih disiplin. Dengan membuat jadwal harian, aktivitas anak akan lebih terarah tiap harinya.

Jadwal harian tersebut bisa dimulai dengan rutinitas sederhana, mulai dari bangun tidur sampai tidur malam, lengkap dengan keterangan waktu yang jelas.

Jangan lupa untuk menjadwalkan waktu bebas di sela-sela aktivitasnya, supaya anak tetap nyaman dan tidak merasa terkekang. 

Terakhir, jangan lupa untuk meletakkan jadwal di tempat strategis yang sering anak lihat.

Memberitahukan Apa yang Boleh Dilakukan

Fokuslah memberitahu anak apa yang boleh dilakukan, daripada apa yang dilarang. Untuk urusan disiplin waktu, ajak anak memberi tanda ceklis pada jadwalnya setiap selesai kegiatan.

Kemudian, jika anak mulai melenceng dari jadwal, ingatkan dengan lembut melalui pernyataan seperti, “Adik, sudah jam 12 siang, sekarang waktunya apa ya?”.

Arahan yang bersifat positif lebih mudah untuk dipahami anak, khususnya untuk anak yang memiliki sifat keras kepala.

Hindari Aturan Ketat

Aturan yang terlalu ketat dan selalu melarang, bisa membuat anak tidak berani untuk mencoba hal baru.  Oleh karena itu, hindari aturan yang terlalu kaku.

Buatlah batasan hanya untuk hal-hal yang bersifat penting saja, serta sampaikan alasannya dengan bahasa yang sederhana.

Hal tersebut bertujuan untuk melatih kedisiplinan, di mana ia mampu menikmati kebebasan namun tetap bertanggung jawab.

Misalnya, saat anak sedang bermain biarkan ia menghabiskan waktunya, namun tetap ingatkan dengan tegas  bahwa ia harus mengerjakan PR setelahnya.

BACA JUGA: 6 Peran Penting Orang Tua di Setiap Tahap Perkembangan Anak

Jangan Mengomel Panjang Lebar

Hindari mendisiplinkan anak dengan cara mengomelinya serta menyudutkan anak, karena hal tersebut membuat bosan dan tidak memberikan efek jera.

Saat mendisiplinkan anak lewat kata-kata, berbicaralah dengan singkat, padat dan jelas. Katakan secara langsung tindakan apa yang salah dan apa yang seharunya dilakukan.

Misalnya, ketika anak meninggalkan piring kotor setelah makan, cukup katakan, “Adik, tanggung jawab setelah adalah menaruh piring kotor di wastafel. Ayo, piringnya dibawa supaya mejanya bersih”.

Aturan yang Konsisten

Dalam upaya mendisiplinkan anak, aturan yang tidak konsisten hanya akan membuat anak merasa kebingungan. Penerapan aturan harus tetap konsisten namun juga bersifat adaptif.

Artinya, aturan harus konsisten dan tidak berubah tanpa alasan yang jelas. Kemudian yang dimaksud dengan adaptif adalah penyesuaian aturan yang diubah ketika anak bertambah usia.

Misalnya, bermain dengan makanan bisa dimaklumi saat anak berusia dua tahun, tetapi ketika ia berusia enam sampai sembilan tahun hal tersebut harus dihentikan.

Menjadi Teladan yang Baik

Ketika orang tua melakukan gaya hidup yang disiplin, anak akan melihat serta merekam perilaku tersebut di dalam memorinya.

Seiring bertumbuhnya anak, meraka akan terus mengamati dan meniru kebiasaan orang tua yang mereka lihat tiap harinya.

Oleh karena itu, pastikan orang tua selalu melakukan tindakan yang positif dan menanamkan nilai kedisiplinan pada kehidupannya.

Jangan Memberikan Hukuman FIsik

Untuk mendisiplinkan anak ketika berhadapan dengan anak yang nakal, orang tua tidak boleh menggunakan kekerasan.

Melansir dari pmc.ncbi.nlm.nih.gov, The Psychosocial Paediatrics Committee dari Kanada,sangat tidak menyarankan tindakan memukul untuk disiplin serta semua bentuk hukuman fisik lainnya.

Cedera fisik yang diakibatkan pada anak adalah tindakan yang tidak tepat dan berbahaya. Alhasil, anak akan sulit memahami konsep disiplin dan batasan baik-buruk.

Oleh: Robi Andika

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *