GIDO TAEKWONDO – Memiliki mental yang tangguh bukan berarti tidak boleh merasakan rasa sedih ataupun harus selalu berani. Ketangguhan sejati ialah ketika seseorang dihadapkan dengan situasi yang buruk, namun mampu bangkit kembali dari keterpurukan tersebut.
Mental yang tangguh tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan perlu dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, proses melatih ketangguhan mental harus dimulai sejak dini di lingkungan keluarga, di mana orang tua memiliki peran yang krusial dalam mendidik anak.
Untuk lebih detail, berikut adalah lima cara mendidik anak agar bermental tangguh:
Ajarkan Anak untuk Memahami dan Mengelola Emosi
Cara pertama ialah mengajarkan anak untuk memahami dan mengelola emosi mereka. Banyak orang berpikir bahwa anak yang tangguh adalah anak yang tidak boleh takut, menangis dan harus selalu kuat. Padahal, jika anak terus menekan emosinya, mereka akan rentan stres dan memicu ledakan emosional di kemudian hari.
Pada dasarnya, semua emosi itu adalah hal yang wajar dan boleh dirasakan, namun bagaimana cara menanggapinya dengan benar adalah sesuatu yang perlu diperhatikan.
Melansir dari fimela.com, memvalidasi emosi anak mampu membuat mereka merasa dimengerti, sekaligus memperkuat rasa percaya diri anak.
Oleh karena itu, peran orang tua ialah membantu anak untuk mengenali, serta mengelola emosi terebut agar tidak berdampak negatif.
Sebagai contoh, ketika anak menangis karena kalah dalam perlombaan, orang tua tidak melarangnya untuk menangis, melainkan mengatakan bahwa rasa sedih dan kecewa tersbut adalah hal yang wajar.
Setelah emosi anak mereda, di situlah peran orang tua agar membimbing mereka untuk menenangkan diri, dan berbicara mengenai langkah perbaikan yang bisa dilakukan ke depannya.
Latih Anak dalam Problem Solving
Kemudian, melatih anak dalam problem solving adalah salah satu cara agar anak bermental tangguh. Saat anak menghadapi masalah, jangan langsung memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan.
Alih-alih menyelesaikan masalah mereka, orang tua dapat mendampingi anak untuk melakukannya dengan benar.
Contoh sederhananya, ketika anak kesulitan mengikat tali sepatu mereka, orang tua dapat memberikan petunjuk yang benar, daripada mengikatnya secara langsung.
Mengutip dari haibunda.com, Amanda Macdonald seorang psikoterapis mengungkapkan, “Seiring anak-anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, mereka belajar bahwa orang tua mereka tidak dapat menyelesaikan segalanya.”
“Jadi, dengan mengalami rintangan kecil dan menyelesaikannya dengan bimbingan orangtua, mereka memiliki sumber daya dalam diri mereka untuk terus maju melewati masa-masa sulit dan dapat mengurangi perasaan cemas yang dapat muncul ketika mereka menghadapi tantangan yang lebih besar,” lanjut Amanda.
BACA JUGA: Mengapa Membiarkan Anak Memilih Itu Penting, Ini Manfaatnya
Berikan Anak Tanggung Jawab
Selanjutnya, memberikan anak sebuah tanggung jawab agar mereka memiliki mental yang tangguh.
Melansir dari sparks-edu.com, memberikan tanggung jawab seperti melibatkan anak dalam tugas rumah tangga sederhana, dapat meningkatkan rasa percaya diri anak.
Efek dari kepercayaan yang diberikan tersebut, anak akan merasa lebih kompeten dan juga membuat mereka lebih mandiri.
Memberikan anak tanggung jawab sesuai dengan usia mereka, dapat membuat anak tidak selalu bergantung pada orang lain ketika menghadapi masalah sehari-hari.
Contohnya, untuk anak usia sekolah bisa diberi tanggung jawab seperti mencuci piring dan gelas, yang mereka gunakan sendiri setelah selesai makan.
Hal sederhana tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus pemahaman bahwa mereka memiliki peran penting di dalam rumah.
Latih Anak Agar Berani Mengambil Keputusan
Cara lain untuk mendidik anak agar bermental tangguh, ialah melatih mereka agar berani mengambil keputusan. Mental yang tangguh sangat dipengaruhi oleh perasaan mampu mengendalikan diri sendiri.
Melansir dari superkidz.id, ada kalanya anak perlu diberi kebebasan menentukan pilihannya sendiri. Kebiasaan ini melatih anak belajar dari konsekuensi perbuatannya, sehingga mereka tumbuh menjadi bijak, percaya diri dan mampu bangkit dari keterpurukan.
Oleh sebab itu, latihlah anak untuk menentukan pilihan-pilihan kecil dalam keseharian mereka. Sebuah contoh kecil yang bisa dilakukan ialah seperti, membiarkan mereka memilih ekstrakulikuler di sekolah sesuai dengan minat mereka.
Namun perlu diingat, orang tua tidak harus selalu menempatkan anak pada posisi yang bebas sepenuhnya tanpa pengawasan.
Orang tua wajib mengenintervensi, ketika anak membuat keputusan yang menempatkan mereka dalam situasi yang mengancam keselamatannya.
Berikan Dukungan Penuh Kepada Anak
Terakhir, berikan anak ruang untuk bereksplorasi terhadap minat serta lingkungan sekitarnya. Biarkan anak mencoba tantangan baru sesuai dengan kapasitas dan umur mereka.
Lingkungan yang tidak mendukung atau membatasi minat anak, akan mengurangi keberanian serta menurunkan rasa ingin tahu mereka.
Mengeksplorasi bakat anak juga penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Peran orang tua ialah dengan memberikan dukungan, cinta, serta toleransi dengan hadir ketika anak mengalami kegagalan.
Jika orang tua selalu menjauhkan anak dari kegagalan atau terus mengatur kesuksesan mereka, anak justru akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan tumbuh.
Dengan demikian, biarkan anak menghadapi setiap kegagalan kecilnya, agar mereka mampu menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki mental yang tangguh.





