peran orang tua

6 Peran Penting Orang Tua di Setiap Tahap Perkembangan Anak

GIDO TAEKWONDO – Peran orang tua bukan hanya sekadar merawat anak, tetapi juga merupakan proses perkembangan yang terus berlangsung bagi diri orang tua sendiri.

Apabila orang tua tidak ikut berkembang menyesuaikan tahap perkembangan anak, maka pertumbuhan anak akan terhambat atau tidak berkembang dengan baik.

Melansir dari americanspcc.org, jika orang tua tidak menjalakan perannya dengan tepat, maka anak dapat mengalami kepercayaan diri rendah, kecemasan dan depresi, keterampilan akademik dan sosial yang buruk, bahkan dapat melakukan tindakan kriminal saat dewasa.

Dalam penelitiannya, Galinsky (1987) mengidentifikasi enam tahap menjadi orang tua yang berfokus pada tugas dan tujuan yang berbeda. Berikut adalah peran orang tua di setiap tahap perkembangan anak, melansir dari nobaproject.com:

Tahap Pembentukan Citra (The Image-Making Stage)

Tahap ini dilakukan ketika orang tua dalam perencanaan anak atau masa kehamilan. Calon orang tua dapat membayangkan bagaimana saat menjadi orang tua nantinya dan tipe orang tua seperti apa yang mereka inginkan.

Di tahap ini, sebuah pasangan dapat mengevaluasi hubungan mereka dengan orang tua mereka sendiri. Hal ini dapat dilakukan sebagai perbandingan atau sebagai contoh untuk peran mereka nanti.

Dengan mengevaluasi hubungan tersebut, mereka dapat mengetahui apa yang perlu dilakukan dan apa yang perlu dihindari. Selain itu, orang tua juga dapat merencanakan perubahan untuk memfasilitasi perkembangan anak.

Tahap Pengasuhan (The Nurturing Stage)

Tahap pengasuhan, terjadi saat bayi lahir. Tujuan utama orang tua selama tahap ini adalah membangun hubungan kelekatan (attachment) yang dekat dan penuh kasih dengan bayinya.

Mereka harus menata ulang banyak hal, baik itu hubungan rumah tangga mereka, hubungan mereka dengan anak yang lain, maupun hubungan dengan orang tua mereka sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar bayi bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Saat berusaha menyeimbangkan hubungan dengan anak dan hubungan lain dalam hidup mereka, orang tua sering kali ikut membentuk ulang pandangan tentang diri dan identitas mereka.

Tahap ini juga terasa paling melelahkan karena bayi benar-benar bergantung sepenuhnya pada orang tua.

Tahap Otoritas (The Authority Stage)

Peran ini berlangsung ketika anak berusia dua sampai empat atau lima tahun. Pada tahap ini, orang tua mulai menentukan sejauh mana mereka perlu menerapkan aturan dan batasan (otoritas) untuk anaknya.

Orang tua harus membuat keputusan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak, seberapa tegas aturan yang harus dijalankan, dan bagaimana cara menangani anak ketika aturan dilanggar.

Dalam masa ini, orang tua belajar untuk menyeimbangkan antara kasih sayang dan ketegasan.

BACA JUGA: Yuk Kenali Manfaat Taekwondo, Bela Diri yang Cocok untuk Anak

Tahap penafsiran (The Interpretive Stage)

Tahap keempat ini terjadi ketika anak memasuki masa sekolah (prasekolah atau taman kanak-kanak) hingga awal masa remaja. Anak mulai banyak berinteraksi dengan dunia luar, sehingga orang tua memiliki peran untuk membantu mereka memahami pengalaman baru itu.

Dalam tahap ini, orang tua berperan untuk menjawab pertanyaan anak mereka, memberikan penjelasan, dan menentukan perilaku serta menanamkan nilai-nilai yang baik.

Orang tua juga memutuskan hal-hal seperti sekolah mana yang terbaik, lingkungan tempat tinggal, atau kegiatan tambahan apa yang cocok untuk anak.

Pada tahap ini, orang tua sudah berpengalaman dalam peran pengasuhan. Mereka sering kali menilai tentang kekuatan dan kelemahan mereka sebagai orang tua. Mereka juga meninjau kembali tentang perannya sebagai orang tua, dan menentukan seberapa realistis harapan mereka dulu.

Orang tua harus menentukan tentang seberapa terlibat mereka dengan anak-anak mereka. Mereka harus belajar kapan harus ikut campur dan kapan sebaiknya memberi anak ruang untuk membuat keputusan sendiri secara mandiri.

Tahap saling ketergantungan (The Interdependent Stage)

Tahap ini dialami saat anak mulai beranjak remaja. Orang tua harus menyesuaikan ulang cara menggunakan otoritas mereka dan membangun hubungan yang lebih setara dengan anak.

Sebab, anak semakin banyak mengambil keputusan tanpa campur tangan dari orang tua. Namun di sisi lain, orang tua tetap punya batasan dan tanggung jawab untuk mengarahkan.

Sehingga, anak dan orang tua harus menyesuaikan hubungan mereka, agar lebih banyak melibatkan negosiasi, diskusi, dan saling memahami aturan dan batasan yang dibuat bersama.

Tahap Perpisahan (The Departure Stage)

Selama tahap perpisahan, orang tua mulai mengevaluasi seluruh pengalaman mengasuh anak, apa yang berhasil, apa yang mungkin mereka sesali.

Mereka juga mulai mempersiapkan diri untuk kepergian anak mereka, mendefinisikan ulang identitas mereka sebagai orang tua dari anak yang sudah dewasa.

Dalam periode ini, orang tua harus menata ulang identitas diri mereka. Sebab, peran sebagai orang tua kini tidak lagi menjadi pusat kehidupan mereka.

Tahap ini membentuk transisi menuju era baru dalam kehidupan orang tua. Tahap ini biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, mulai dari anak sulung yang pergi kuliah sampai anak bungsu mandiri.

Kesimpulan

Menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan anak, tetapi juga tentang tumbuh dan berkembang bersama di setiap tahap perkembangan anak.

Setiap fase perkembangan anak menuntut peran orang tua yang berbeda, mulai dari membentuk citra diri sebagai calon orang tua, membangun kedekatan emosional, menetapkan aturan, hingga akhirnya belajar melepaskan ketika anak beranjak dewasa.

Dengan memahami enam tahap perkembangan orang tua menurut Galinsky, setiap orang tua dapat lebih adaptif, sadar, dan bijak dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Ketika orang tua mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak di setiap tahap, maka perkembangan anak pun akan berlangsung optimal—baik secara emosional, sosial, maupun moral.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *